Mata-Mata yang Mengancam
Aku tidak suka kepala ikan. Dan aku tidak akan pernah suka kepala ikan.
***
9 dan 10 muharam, saatnya shaum!
Aku berncana jadi anak yang baik selama 2 hari ini. Kemarin aku berhasil dengan baik, tak ada yang aneh. Tapi hari ini…
***
Bahkan kedua adikku mendadak jadi baik, mereka memaksa supaya bisa ikut shaum asy-syura kali ini, setelah kemarin gagal sahur dan akhirnya tidak ikut shaum.
Adikku yang bungsu menyapu dan adikku yang pertama mengepel, aku sendiri cuci piring—satu-satunya yang bisa kukerjakan di rumah. Tampak seperti kakak beradik yang bahagia dan tidak pernah bertengkar dan saling menjahili.
Kemudian ibuku menyuruhku membersihkan ikan-ikan yang baru saja di beli dari mang ujang—tukang sayur yang biasa mangkal bukan di komplekku, tapi lumayan dekat dari rumah.
Seperti yang sering kulihat dilakukan ibuku saat mencuci ikan, aku membersihkan sisiknya, mengeluarkan tiga pasang insangnya dan membersihkan bagian dalam si ikan sampai bersih.
Kebiasaanku berbicara sambil bekerja, kulakukan seperti biasa, “Mandi ya ikan, yang bersih, jadi kan pas digoreng enak…” Aku menatap mata si ikan.
“Hey! Dasar manusia! Kalian rakus, semuaaa ingin kalian makan. Tapi kalian tidak mau memafaatkan sampah-sampah itu!”
Heh? Aku tidak salah dengar? Aku dengar ikan itu bicara!
“Apa maksudmu tuan ikan?” Aku menggoda.
“lihat insangku! Liahat sisik-sisik itu! Semasa aku hidup dulu, semuanya bermanfaat, sekarang kau membuangnya seolah-olah itu semua percuma!” Kini tatapannya seakan-akan ingin mengajakku berkelahi. Menyebalkan.
“Bagian-bagian itu bermanfaat buatmu, tapi tidak enak kumakan. Jadi, biarakan bagian-bagian itu buat kucing…”
“Apa?! Kucing katamu! Mereka itu musuhku! Musuh kami! Aku tidak sudi bagian tubuhku jadi makanan mereka!”
Suara-suara ikan lain terdengar sahut-menyahut saling membenarkan. Kepalaku pusing. Aku putuskan untuk tidak mengacuhkan mereka. Aku tetap membersihkan sisik-sisik mereka. Auw! Sirip si ikan menggores tanganku. Aku semakin geram.
“Apa sih maumu?! aku buang juga kepalamu! Biar puas kepalamu itu dimakan kucing!”
Mata si ikan menyiratkan ketakutan. Aku tertawa puas. Tapi sejurus kemudian aku berpikir, kalau kubiarkan kepala ikan itu dimakan kucing, bisa habis aku dimakan ibuku.
Si ikan membaca situasiku, kini giliran dia yang tertawa. “hahahaha! Kau tak akan berani memotong kepalaku!”
Huh! Aku sebal melihat mata nan pitabokeun itu! Tanapa pikir panjang, kucongkel saja matanya. Hahaha! Sekarang kau tidak bisa mengejekku dengan mata belo mu itu lagi! Hahaha!
Hal serupa kulakukan pada ikan lainnya. Suara-suara itu tak kudengar lagi sekarang.
Ibuku sudah menyiapkan bumbu-bumbu yang harus diulek buat penambah rasa bagi si ikan. Ada garam, bawang merah putih, jahe, kunyit, dan bubuk yang aku tidak tahu namanya. Saat menguleknya mataku berair. Aku menangis. Sekarang aku mulai berpikir, jangan-jangan ini karma karena sudah membantai mata-mata ikan.
***
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Adzam maghrib, waktunya berbuka, Alhamdulillah…
Adik-adikku melihat para ikan dengan aneh. “Ma, kok ikannya pada nggak punya mata?”
Ibuku menatapku yang berarti jelasin tuh! Itu kan kerjaan kamu, Les!
Dengan santai aku menjawab, “Soalnya, waktu hidup, ikannya suka ngeliat yang jelek-jelek! Makanya dikutuk jadi nggak punya mata. Makanya kalian jangan suka ngeliat yang jelek-jelek…”
Ibuku mengerenyit.
***
Aku menatap diriku di cermin. Kok aku bisa setega itu yah? Membantai ikan-ikan yang tidak berdosa… Ah, biarkan sajalah! Mereka ini yang salah, pakai menantang segala…
Tapi itu kan imajinasi!... Bukan!
Sekarang ada dua suara di dalam kepalaku.
Wah! Jangan-jangan aku berubah jadi psikopat!
Gawat!
Eh, tapi kalau bener juga nggak apa-apa deh. Kalau nggak terlalu jahat mah nggak apa. Nanti akau bakala nulis novel tentang diriku sendiri. Pasti bakal best seller.
Ya ya ya ya…
~Zorru~
2 comments:
lucu!!
keren.. bisa segitunya imajinasi...
ooo...
terima kasih..
imajinasi tidak mengenal batas teh...
Post a Comment